Kondisi Geologi Pangandaran

Fauna found in the Pananjung Nature Reserve

Fauna found in the Pananjung Nature Reserve

Dilihat dari peta geologi daerah Pangandaran dan sekitarnya, daerah ini memiliki 6 formasi batuan yaitu formasi jampang, formasi pamutuan, anggota kalkarenit formasi pamutuan, anggota tuff napalan formasi pamutuan, formasi kalipucang, dan endapan aluvial.

Geology regional map of Pangandaran and surrounding area

Peta Geologi Regional daerah Pangandaran dan sekitarnya

Pada Formasi Jampang (Tomj) tersusun oleh batuan gunung api klastika yang sangat menonjol bahannya berupa breksi, tuff, dan sisipan lava batuan ini berselingan dengan batupasir, batulempung dan napal dengan sisipan konglomerat, batupasir kerikil dan diamictid. Formasi Pamutuan (Tmpa) berdasarakan data regional tersusun oleh antara lain batupasir, napal, tuff, kalkarenit, batulempung dan batugamping. Anggota Kalkarenit, Formasi Pamutuan (Tmpl) tersusun oleh Kalkarenit dan batuan gamping klastika berselinga dengan napal. Anggota Tuf Napalan, Formasi Pamutuan (Tmpt) tersusun oleh tuf napalan berselingan dengan batupasir sela, batulempung dan batugamping. Formasi Kalipucang (Tmkl) merupakan batugamping terumbu. Alluvial merupakan satuan batuan yang mengalami proses sedimentasi yaitu pembentukan endapan, pelapukan, transportasi yang dibentuk dari batuan sebelumnya.

Geowisata

Pada daerah Pangandaran dan sekitarnya terdapat dua tempat yang berpotensi menjadi geosite yaitu Curug Bojong dan Gua, dan dua tempat yang telah menjadi geosite yaitu Pantai Pangandaran dan Cagar Alam.

spot location map visit

Peta spot/titik lokasi yang dikunjungi

a. Curug bojong

Curug bojong bertempat di sungai ciputrapinggan pada koordinat E 1080 40’ 43,3” dan S 70 38’ 46” (stasiun 9). Curug ini memiliki ketinggian sekitar 5,5m dan disusun oleh satuan breksi vulkanik dari formasi jampang, dengan komponen monomik batuan beku andesit. Umumnya tidak menunjukkan adanya perlapisan, breksi yang tersingkap memilik matriks berupa tuff  berwarna segar abu-abu keputihan dan berwarna lapuk abu-abu kehitaman, keras, terdapat struktur vesicular, besar butir sedang-kasar, terpilah sedang, kemas tertutup, dan terdapat mineral kuarsa, biotit, dan feldspar. Satuan breksi vulkanik ini berumur oligosen-miosen awal.

panagandaran 1
pangandaran2
pangandaran 3

b. Gua

Gua ini berada pada koordinat E 1080 40’ 3,7” dan S 70 39’ 28,5” (stasiun 7). Gua tersebut memiliki ketinggian sekitar 80 cm dan disusun oleh satuan batugamping terumbu dari formasi pamutuan. Batugamping ini berjenis autochtonous dengan warna segar coklat keputih-putihan dan warna lapuk cokelat muda. Terususun oleh kristal kalsit yang mengalami pretifikasi yaitu pelarutan batugamping oleh air, dimana lubang pretifikasi terisi oleh kristal kalsit.

gua pangandaran
gua pangandaran 2

c. Pantai Pangandaran

Pangandaran sebagian besar dikontrol oleh proses fluvial, fluvio marin dan marin, sehingga wilayah kepesisirannya memiliki tipologi yang cukup beragam. Tipologi pantai yang dimiliki oleh wilayah kepesisiran Pangandaran yaitu, marine diposition coast, coast bulid by organism, dan wave erosion coast.

Tipologi marine deposition coast merupakan tipologi pantai yang mendominasi di wilayah kepesisiran Pangandaran. Tipologi ini terdapat di pantai barat dan pantai timur pangandaran dan pantai pasir putih.  Tipologi ini ditandai dengan adanya gisik pantai yang merupakan akumulasi material sedimen marin oleh arus ataupun gelombang. Pesisir dengan tipologi ini terletak pada suatu teluk sehingga disebut juga memiliki gisik saku (Pocket beach). Dinamika pesisir yang terjadi pada tipologi ini adalah pengendapan material sedimen marin. Material ini berupa pasir pantai kasar dan material bioklastis yang terbentuk dari sisa dari hewan atau tumbuhan laut. Selain itu, pangandaran sendiri merupakan hasil deposisi sedimen marin yang membuatnya terbentuk dan menghubungkan pulau jawa dengan pulau pananjung membentuk tombolo.

white sand beach as marine deposition coast

Pantai pasir putih sebagai marine deposition coast

Tipologi coast build by organism yang terdapat di Pangandaran keberadaannya berasosiasi dengan tipologi marine deposition coast. Pantai ini bersebelahan dengan pantai pasir putih. Pantai ini memiliki reeffrom sejauh 100 meter ke arah breaker zone laut dimana kedalamannya kurang dari 2 meter. Di pantai ini terdapat hamparan terumbu karang yang tumbuh cukup intensif. Pantai dengan tipologi seperti ini hanya terbentuk di satu sudut pantai di pulau pananjung.  Walaupun areanya tergolong sempit, tetapi tipologi pantai seperti ini sudah dimanfaatkan oleh pemerintah setempat untuk spot wisata snorkeling.

Reeffrom overlay as far as 100 m

Hamparan reeffrom sejauh 100 m

Tipologi wave erosion coast terdapat pada sebagian besar tanjung Pulau Pananjung Pangandaran. Tipologi ini nampak dengan ciri-ciri seperti bentuk pantai yang berliku atau terjal tidak teratur, material pantai didominasi oleh pasir dan ditandai dengan keberadaan stack berupa hancuran batuan-batuan dengan berbagai ukuran yang berasal dari dinding pantai (cliff). Dinamika pantai yang terjadi pada daerah ini adalah erosi oleh gelombang (abrasi). Meskipun demikian, karena material penyusun batuan di wilayah ini adalah batuan gamping yang keras, dan tidak terdapat sarana dan prasarana umum yang berada disana sehingga abrasi yang terjadi di sana tidak begitu beresiko dan membayakan.

Steep cliffs erosion ocean waves
Steep cliffs erosion ocean waves

Berdasarkan tipologi yang dimilikinya, maka Pantai Pangandaran memiliki potensi dan permasalahan wilayah kepesisiran, diantaranya :

 

  • Potensi untuk Pariwisata

Masing-masing tipologi pesisir memiliki potensi di jadikan tempat wisata, mengingat masing-masing tipologi pantai memiliki karakteristik yang unik yang layak ditawarkan sebagai objek wisata. Tipologi wave erosion coast memiliki kenampakkan laut lepas yang luas. Selain itu tipologi ini pada beberapa tempat memungkinkan untuk digunakan sebagai arena panjat tebing.

Tipologi pesisir dengan tipe Marine deposition coast memiliki gisik pantai yang dapat digunakan sebagai tempat bermain, berenang, jala-jalan dan beberapa aktifitas lain yang dapat dilakukan selama berwisata.

Permasahalahan yang terjadi diisini adalah sampah dari hasil kegiatan pariwisata yang mengotori pantai. Selain itu, karakteristik pantainya yang berbentuk saku dan berhadapan dengan laut lepas, ia sangat rawan akan gelombang tsunami.

 

  • Potensi untuk Perikanan

Pantai pangandaran yang berbatasan dengan laut lepas ini memiliki potensi di bidang perikanan yang cukup potensial. Hal ini dibuktikan dengan adanya tempat pelelangan ikan yang cukup besar di daerah pantai timur pangandaran.

 

  • Potensi untuk Peternakan

Peternakan yang paling potensial untuk dikembangkan pada wilayah pesisir pangandaran khususnya di pulau Pananjung, adalah budididaya sarang burung walet. Budidaya ini sebernanya sudah dikembangkan hampir pada semua wilayah pesisir pulau pananjung karena banyak terdapat cliffnotch, serta sea cave. Meskipun demikian, budidaya sarang burung walet baru dilakukan di pantai, yakni pada tebing yang menghadap kelaut.

d. Cagar Alam

Cagar Alam Pananjung yang berupa sebuah bukit seluas lebih dari 530 hektar. Secara geografis Cagar Alam Pananjung berada pada 1080 38’ 50” BB – 1080 40’ 38” BT dan 70 42’ 20” LU – 70 43’ 51” LS (stasiun 2). Topografi kawasan ini mulai dari landai sampai berbukit kecil dengan ketinggian tempat rata-rata 100 meter di atas permukaan laut. Dilihat dari kondisi geologinya, wilayah ini disusun oleh satuan batugamping terumbu dari formasi kalipucang dan satuan breksi laharik dari formasi jampang dengan komponen polimik yaitu batugamping dan batuan beku, serta matriks batupasir. Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, Cagar Alam Pananjung termasuk tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata per tahun 3.196 mm, suhu udara antara 80-90%.

Flora yang terdapat sekitar 80% merupakan vegetasi hutan sekunder tua dan sisanya adalah hutan primer. Pohon-pohon yang dominant antara lain Laban (Vitex pubescens), Kisegel (Dilenia excelsea), dan Marong (Cratoxylon formosum). Selain itu banyak juga terdapat jenis-jenis pohon seperti Reungas (Buchanania arborencens), Kondang (Ficus variegata), teureup (Artocarpus elsatica) dan lain-lain. Dari formasi Baringtonia terdiri dari Nyamplung (Callophylum inophylum), Waru laut (Hibiscus tiliaceus), Ketapang (Terminalia cattapa), dan Butun (Baringtonia aistica). Di dataran rendahnya terdapat hutan tanaman yang merupakan tanaman exotica, yaitu yang terdiri dari tanaman jati (Tectona grandis), Mahoni (Swietenia mahagoni) dan Komis (Acacia auriculirformis).

Satwa liar yang terdapat diantaranya adalah Banteng (Bos sondaicus), Kijang (Muntiacus muntjak), Tando (Cynocephalus variegatus), Kalong (Pteroptus vampyrus), Kera abu-abu (Macaca fascicularis), Lutung (Trcyphithecus auratus), Kangkareng (Anthracoceros convexus), Rangkong (Buceros rhinoceros), dan Ayam hutan (Gallus gallus.

Fauna found in the Pananjung Nature Reserve
Fauna found in the Pananjung Nature Reserve
Fauna found in the Pananjung Nature Reserve
Fauna found in the Pananjung Nature Reserve

Cagar Alam Pananjung mempu memberikan beberapa fungsi kepada masyarakat umum, baik untuk kepentingan umum, ilmu pengetahuan, penelitian dan pendidikan. Kawasan ini merupakan laboratorium alam, dimana proses kehidupan alamnya tidak begitu terganggu. Satwa liar, biota laut dan vegetasinya sangat menarik serta memungkinkan dilakukan aktifitas wisata alam yang menarik.

Land Use

RBI maps Pangandaran area (Bakosurtanal sheet 1308-232)

RBI maps Pangandaran area (Bakosurtanal sheet 1308-232)

Pendayahgunaan lahan daerah Pangandaran dan sekitarnya terbagi dalam beberapa jenis pemanfaatan antara lain kawasan pemukiman, kawasan kebun dan sawah, kawasan hutan, kawasan pesisir pantai, serta kawasan konservasi. Kawasan pemukiman (pada gambar ditandai dengan warna merah muda) lebih banyak tersebar di dekat pantai pada bagian selatan pada daerah penelitan karena pantai pada daerah penelitian merupakan daerah pariwisata berkembang. Selain di dekat pantai, ada juga beberapa pemukiman yang tersebar di daerah utara hingga timur laut yang merupakan daerah perbukitan yang ditutupi oleh banyak vegetasi (pada gambar ditandai dengan warna hijau). Pada bagian utara-barat laut daerah penelitian yang merupakan daerah perbukitan banyak dimanfaatkan untuk dibuat sawah irigasi, ladang, maupun kawasan perkebunan (pada gambar ditandai dengan warna kuning). Kawasan pesisir pantai terletak pada bagian selatan daerah penelitian dimana banyak dimanfaatkan sebagai daerah wisata, pelabuhan warga serta tambak. Pada bagian paling selatan (tanjung) merupakan daerah penelitian dan terdapat daerah konservasi atau cagar alam yaitu berupa hutan lindung dan memiliki tebing-tebing yang cukup curam.

 

Potensi Bencana

Potensi bencana yang berada di wilayah penelitian Kabupaten Pangandaran diantaranya adalah Tsunami, Gempa, Banjir, dan Longsor.

a. Tsunami

Berdasarkan penelitian, Potensi tsunami Pangandaran berada di posisi tertinggi dibanding potensi tsunami di pesisir pantai lainnya di Jawa Barat. Berdasarkan sejarah bencana tsunami yang terbesar yang pernah terjadi di daerah pangandaran terjadi pada tanggal 16 Juli 2006. Bencana yang terjadi pada saat itu memang tidak dapat terprediksi secara akurat jika melihat sejarah dan kajian para ahli.  Tetapi dalam ilmu geologi terdapat istilah paleotsunami. Pengertian Paleotsunami adalah tsunami purba atau tsunami yang terjadi pada zaman dahulu. Penelitian paleotsunami adalah penelitian untuk mengetahui tsunami yang pernah terjadi di masa-masa lalu berdasarkan bukti-bukti geologi. Bukti-bukti yang dimaksud umumnya berupa endapan-endapan pasir tsunami.

Endapan pasir tsunami memiliki ciri-ciri yang khas sehingga dapat dibedakan dari endapan pasir lainnya. Endapan ini sering kali ditemukan menutupi lapisan tanah purba. Secara umum endapan pasir tsunami memperlihatkan kenampakan struktur ukuran butiran menghalus ke bagian atas secara berangsur. Dalam satu endapan tsunami, struktur ini dapat terlihat lebih dari satu buah. Struktur ini merupakan petunjuk bagi banyaknya gelombang yang melanda ketika tsunami terjadi.

Hasil penelitian paleotsunami juga dapat digunakan sebagai acuan dalam penyusunan tata ruang wilayah pantai yang memperhatikan potensi bencana tsunami. Hal ini dilakukan dengan memahami sebaran endapan tsunami purba. Secara umum pantai pangandaran rawan terhadap bencana tsunami. Hal ini karena kedua wilayah itu sama-sama berada di zona rawan gempa bumi sebagai hasil tumbukan (subduksi) antara lempeng samudra Indo-Australia dengan lempeng benua Eurasia. Interaksi kedua lempeng itu berlangsung terus dari dahulu hingga sekarang dan di masa-masa datang. Dengan demikian, gempa bumi pun masih dapat terjadi kembali setiap saat, begitu juga dengan tsunami.

Endapan pertama yang berada pada kedalaman 10 – 20 cm dari permukaan tanah diduga merupakan endapan tsunami pada tahun 1921. Tebal endapan ini mencapai hingga 4 cm. Sebagai perbandingan, tebal endapan pasir tsunami Juli 2006 di daerah Pangandaran mencapai hingga 11 cm. Selain ketebalannya, secara sepintas endapan tsunami ini mirip sekali dengan endapan tsunami Juli 2006 yaitu hanya terdiri dari satu lapis pasir berwarna kehitaman. Pasir ini menyerupai pasir pantai yang ada di daerah Pangandaran. Ukuran butiran pasirnya seragam dari bawah ke atas dan mengandung kuarsa, biji besi, dan pecahan-pecahan cangkang berukuran pasir. Lapisan ini tidak dapat ditemui di setiap tempat mungkin karena sebagian telah hilang digerus erosi setelah diendapkan.

Lapisan endapan tsunami kedua berada pada kedalaman 2 m di bawah permukaan. Ketebalan lapisan ini mencapai 15 cm, berwarna hitam agak kecokelatan. Di dalam pasir mengandung bongkahan-bongkahan tanah. Bongkahan-bongkahan ini kemungkinan merupakan hasil gerusan oleh gelombang tsunami yang kemudian diendapkan bersama pasir yang dibawanya. Lapisan ini meskipun cukup tebal, namun terlihat tidak menerus. Yang menarik dari lapisan endapan tsunami yang kedua ini adalah bahwa lapisan ini diapit oleh lapisan endapan lempung hijau di bagian bawah dan lapisan lempung cokelat di bagian atasnya. Batas lapisan endapan tsunami dengan kedua lapisan lempung itu sangat tegas. Lempung hijau di bagian bawah kemungkinan diendapkan di lingkungan laguna, sementara lempung cokelat di atasnya yang mengandung sedikit pasir kemungkinan diendapkan di daratan.

Perubahan lingkungan dari laguna sebelum tsunami menjadi daratan setelah pasir tsunami diendapkan menunjukkan bahwa gempa bumi yang terjadi pada saat itu di samping menimbulkan gelombang tsunami, juga dibarengi dengan pengangkatan daratan. Hal ini menunjukkan bahwa gempa bumi yang terjadi pada saat itu kemungkinan merupakan gempa kuat.

Tsunami hazard risk map of Pangandaran area

Tsunami hazard risk map of Pangandaran area

b. Banjir

Banjir di Pangandaran membuat aktifitas warga lumpuh dan sebagian mengungsi. Banjir yang terjadi di Pangandaran sendiri sebagian besar diakibatkan oleh:

  • Peristiwa alam seperti curah hujan dalam jangka waktu yang lama.
  • Buruknya penanganan sampah, hingga kemudian sumber saluran air tersumbat.
  • Di daerah bebatuan daya serap air sangat kurang. Sehingga memudahkan terjadi bencana banjir.
  • Keadaan tanah tertutup semen, paving atau aspal, hingga tidak menyerap air.
  • Pembangunan tempat permukiman dimana tanah kosong diubah menjadi jalan gedung, tempat parkir, hingga daya serap air hujan tidak ada.
  • Bencana banjir bandang.

Berikut ini adalah beberapa wilayah di Pangandaran yang dilanda banjir:

  • Dusun Bojongtempel Desa Babakan

Wilayah ini memang langganan banjir, jika banjir cukup besar maka warga diperintahkan untuk mengungsi ke daerah yang lebih tinggi, banyak warga yang mengungsi ke kerabat atau saudaranya yang tidak terkena banjir, banjir dikawasan ini kerap kali mencapai dada orang dewasa bahkan di sebelah utara lebih dalam lagi. Salah satu warga mengatakan air meninggi walaupun hujan sudah reda, hal ini kemungkinan air kiriman dari daerah pegunungan di bagian utara Pangandaran.

  • Dusun Bojongjati Desa Pananjung

Tidak berbeda dengan wilayah babakan yang dekat dengan aliran sungai cikidang membuat sebagian besar wilayah di Bojongjati di landa banjir.

  • Wilayah Kandang Menjangan

Wilayah ini biasanya tergenang diseluruh bagian jika dilanda hujan, sebuah wilayah kecil ditengah persawahan desa pananjung dan purbahayu yang dihuni puluhan kepala keluarga ini dipastikan tergenang, bahkan jalan yang menghubungkan wilayah pananjung dengan purbahayu lumpuh.

  • Dusun Cijoho Kecamatan Parigi

Dusun cijoho dahulu sempat diterjang banjir bandang yang menyebabkan lumpuhnya jalur utama Parigi- Cigugur, warga yang akan menuju cigugur harus mengambil jalur alternatif via Cintaratu untuk kemudian keluar di cibenda jika akan melanjutkan ke Pangandaran atau sebaliknya. Hingga berita ini di turunkan tidak ada korban jiwa yang jatuh, walaupun ada satu rumah yang nyaris tergerus arus air tapi penghuni rumah sudah berhasil di evakuasi.

  • Kalipucang

The front area of the Kalipucang market that has become a subscription to floods, heavy rains and overflowing river citanduy make this area continues to be flooded when the rainy season comes.

c. Longsor

In addition to floods, landslide disaster is also common in Pangandaran area. Areas that have occurred landslides are: Langkaplancar District, Padaherang District, and Cijulang District. The average occurrence of this landslide is caused by the occurrence of soil erosion to leave only rocks, and no infiltration of water when rainy in area.

Daftar Pustaka

Simanjuntak dan Surono. 1992. Peta Geologi Regional Lembar Pangandaran. Pusat Pengembangan dan Penelitian Geologi.

Peta Bakosurtanal Lembar Pananjung edisi I tahun 1999.

error: Content is protected !!